Tampilkan postingan dengan label Realigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realigi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

0

Kisah Nenek Pemetik Daun

|

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?
Baca selengkapnya »

Kamis, 29 September 2016

0

Hukum Alam : Dimana-Mana Mayoritas yang Mendominasi

|



"Melindungi minoritas adalah keharusan - tapi terus melemahkan mayoritas adalah kebodohan."

Majority (kelompok terbesar) dalam suatu wilayah sudah sepatutnya mengambil alih tampuk kekuasaan dalam bidang apapun, termasuk dalam menjalankan roda pemerintahannya. Tidak ada ceritanya di dunia ini minoritas bisa memimpin mayoritas, apapun itu alasannya sebab sudah menjadi hukum alam (sunnatullah).

Di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka wajib hukumnya untuk mengangkat pemimpin di sana adalah umat Islamnya. Demikian pula jika di negeri atau wilayah yang mayoritasnya non muslim, maka berlakulah hukum yang sama (azaz keadilan).

Tidak bisa diabaikan dan tak bisa dibolak-balik. Pengabaian terhadap “hukum” ini sama saja artinya dengan melakukan pelecehan dan merendahkan suara kaum mayoritas, akibatnya tentu saja akan menimbulkan konflik yang cukup fatal. Makanya di Bali dan Papua tak mungkin dipimpin gubernur muslim.Keseimbangan itulah yang tetap membuat kehidupan sosial berjalan dengan aman dan damai.




Baca selengkapnya »

0

Tanda Hitam di Dahi, Benarkah Pertanda Rajin Sholat?

|

Namun ada hal yang perlu digaris-bawahi secara hati-hati. Sebab banyak di antara umat Islam yang kemudian memahami ayat ini secara harfiyah.

SAAT ini sudah tidak asing bagi kita melihat orang-orang yang memiliki noda hitam di dahi mereka. Banyak yang mengatakan, noda tersebut timbul karena seseorang sering melakukan sujud. Benarkah hal itu?
Istilah ‘Bekas sujud’ di dahi yang bisa dilihat dalam surat ke-48, yaitu Surat Muhammad dan perhatikan ayat yang ke-29.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,” (QS. Muhammad: 29).
Jika diperhatikan isi informasi ayat di atas, istilah ‘bekas sujud’ bukan hanya populer di dalam Quran, melainkan juga ada di dalam kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, yang asli tentunya. Dan ‘bekas sujud’ itu menjadi ciri khas para shahabat nabi Muhammad SAW.

Namun ada hal yang perlu digaris-bawahi secara hati-hati. Sebab banyak di antara umat Islam yang kemudian memahami ayat ini secara harfiyah. Bekas sujud itu kemudian dipahami sebagai warna kulit yang kehitaman di dahi seseorang.

Apakah memang benar? Dan apakah warna kehitaman di dahi itu selalu menunjukkan keimanan dan ketaqawaan seseorang?

Nah, di sini kita harus sedikit lebih cermat. Memang bisa saja karena seseorang banyak melakukan shalat, termasuk shalat malam, maka secara tidak sengaja, dahinya jadi berwarna kehitaman. Tentu hal ini baik, bukan sekedar karena dahinya berwarna hitam, tetapi karena memang banyak shalat.

Namun kalau secara sengaja ditekan-tekannya dahinya ke lantai, agar bisa membekas dan akhirnya berwarna kehitaman, tentu lain urusannya. Sebab esensi ayat itu bukan para warna hitam di dahi, melainkan karena banyaknya shalat.

Dan banyak shalat itulah yang ingin dikemukakan oleh ayat ini, yakni bahwa mereka adalah orang yang sering dan banyak melakukan shalat. Dan disebutkan dengan istilah bekas sujud, karena sujud itu identik dengan shalat, ditambah lagi sujud itu selalu dilakukan 2 kali dalam satu rakaat. Padahal semua gerakan yang lain hanya dilakukan 1 kali saja.

Kita harus hati-hati dalam masalah dahi hitam ini, sebab alih-alih mendapat pahala, boleh jadi kalau diiringi dengan rasa sombong dan riya’, malah akan jadi bumerang.

Bukankah Allah SWT telah berfirman tentang celakanya orang yang shalat namun lalai dan berperilakuriya’. Dan salah satu pintu riya’ dari ibadah shalat ini adalah memamerkan dahi yang berwarna kehitaman itu di depan manusia. Lalu seolah berbangga bahwa dirinya adalah orang paling dekat kepada Allah serta selalu paling benar dalam semua hal.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Maun: 1-3)

Bekas Sujud Akan Nampak di Akhirat
Kita menemukan hadits yang shahih terkait dengan fungsi ‘bekas sujud’ ini. Namun manfaatnya bukan untuk dikenal orang di alam dunia ini, melainkan untuk bisa dikenali Allah SWT di akhirat nanti.
Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka, maka Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah. Lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenali karena ada bekas sujud pada wajahnya. Dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka keluar dari neraka. Seluruh anak Adam bisa dimakan api neraka, kecuali bekas sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa orang yang shalatnya baik di dunia ini dan punya bekas sujud, nanti di akhirat kalau sudah terlanjur masuk neraka, akan dikeluarkan dari dalamnya. Dan cara untuk mengenalinya adalah dari cahaya bekas sujud yang memancar dari dahinya.
Dan bahwa cahaya bekas sujud itu tidak akan hilang termakan oleh panasnya api neraka.
Adapun bekas sujud yang sifatnya seperti cahaya di akhirat nanti, kita dapati keterangannya dari hadits lainnya berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

Semoga Allah SWT menjadikan dahi kita ini memancarkan cahaya di akhirat nanti, sehingga termasuk orang yang akan dibela oleh Rasulullah SAW.

Sumber: Rumah Fiqih
Baca selengkapnya »

Senin, 26 September 2016

0

Gelas Paling Mahal Seantero Dunia

|

SUATU hari seorang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kemudian ia sodorkan kepada mereka sebuah gelas yang terbuat dari berlian sembari berkata, “Bahkan jika kalian semua mengumpulkan harta untuk membeli gelas berlian ini, kalian tidak akan pernah bisa membelinya. Ini adalah benda termahal seantero negeri.”

Semua menatap kagum. Betapa mahal dan indah gelas yang ada di hadapan mereka.
Sang raja melanjutkan, “Wahai rakyatku, siapa diantara kalian yang bersedia untuk memecahkan gelas ini?”
Terkaget-kaget mereka mendengarnya. “Duhai Baginda Raja, bagaimana mungkin kami tega memecahkan benda termahal seantero negeri?” kata salah seorang dari menteri kerajaan. Yang lain menganguk setuju.
“Benar, wahai Raja, bukankah itu pusaka negeri ini? Kami sekali-kali tak akan tega merusaknya,” sahut yang lainnya.

Suasana berubah gaduh, masing-masing berbisik kepada teman di sampingnya.
Tak berselang lama, seorang pemuda muncul dari kerumunan. Ia berjalan tenang, memberi hormat kepada raja, lantas tanpa berbicara apa-apa, ia langsung ayunkan kapak di genggamannya. Maka seketika gelas berlian itu pecah berkeping-keping.

Seketika itu pula orang-orang berteriak memaki-maki, mereka benar-benar marah. Hampir-hampir mereka akan mengeroyokinya jika saja raja tak segera menenangkan mereka.
“Wahai rakyatku, mari dengar dulu alasan kenapa pemuda ini berani memecahkan gelas berlian itu?” ujar sang raja.
“Wahai Rajaku,” kata si pemuda. “Gelas berlian ini memang sangat mahal dan sangat penting, tapi perintahmu untuk memecahkannya jauh lebih mahal dan lebih penting daripada apapun.”
Sang Raja tersenyum. Betapa bijaknya pemikiran si pemuda.
Mari belajar dari si pemuda.

Jikalaupun pemimpin yang ada sekarang tidak korupsi, dermawan tiada terkira, banyak membawa perubahan. Namun jauh lebih penting perintah Allah untuk tidak memilih pemimpin nonMuslim.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An-Nisa’ 144).

Si pemuda meletakkan perintah Allah di atas segala-galanya. Karena hanya dengan begitu kita akan tumbuh menjadi mukmin sejati.
Baca selengkapnya »

Rabu, 21 September 2016

0

Upload Foto di Sosmed. Haramkah?

|

Assamualaikum Wr. Wb

Judul diatas tergolong ekstream, ya kata haram sebenarnya tidak pantas dilekatkan pada judul tersebut pada zaman sekarang. Sebaiknya kata "berdosakah" yang tepat judul di atas, namun bukan demi sesuatu yang menarik hal semacam ini wajar di dunia literasi. Judul yang menarik dan unik dapat mengunggah jiwa seseorang untuk membacanya. Apalagi judul yang berkaitan dengan cinta, jodoh, nikah dan serba-serbi dunia anak muda masa kini. Tetapi, memang benar adanya bahwa para ulama telah sepakat tentang haramnya mengambar makhluk hidup yang bernyawa. Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah Juz 3 Hal 369 beliau mengatakan, “Telah jelas hadits mulia yang shahih tentang larangan memahat patung dan mengambar makhluk yang bernyawa. Baik itu manusia, hewan atau pun burung, adapun menggambar sesuatu yang makhluk yang tak bernyawa seperti tumbuhan atau bunga dan semisalnya maka hal itu di perbolehkan.”

Senada dengan Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitabnya Mausuu’ah Al Manaahisy syar’iyah Fi Shahiihis Sunah An Nabawiyyah ia juga mengaharamkan Gambar bernyawa, “Haram hukumnya gambar dan lukisan (makhluk yang bernyawa karena termasuk menyaingi ciptaan Allah). 

Adapun dalil –dalil tentang Haramnya gambar dan memasang di dalam rumah, diantaranya sebagai berikut.

“Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Ka’bah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas ssalam tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun. “ (HR. Ahmad  1/365. Kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan periwayatnya tsiqoh, termasuk perowi Bukhari Muslim selain ‘Ikrimah yang hanya menjadi periwayat Bukhari)

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107 dan ini adalah lafazh Muslim).

Sudah dibaca? Nah, sekarang kita tahu hadistnya mengenai maksud mengapa dilarang. Namun ada ulama juga yang mentolerir ini semua seperti yang dikemukakan oleh Syaikh rahimahullah. 

Beliau menjawab, “Gambar yang mesti dihapus adalah setiap gambar manusia atau hewan. Yang wajib dihapus adalah wajahnya saja. Jadi cukup menghapus wajahnya walaupun badannya masih tersisa. Sedangkan gambar pohon, batu, gunung, matahari, bulan dan bintang, maka ini gambar yang tidak mengapa dan tidak wajib dihapus. Adapun untuk gambar mata saja atau wajah saja (tanpa ada panca indera, pen), maka ini tidaklah mengapa, karena seperti itu bukanlah gambar dan hanya bagian dari gambar, bukan gambar secara hakiki.”

Oke, sekarang kita paham tujuan dilarangnya memajang foto dirumah dan dimana saja. Tetapi dalam konteks dunia yang modern ini, hal semacam ini boleh di toleransi. Menurut sebagian ulama. Bahwa Selain pendapat-pendapat ulama tentang gambar tadi diatas, ada pula ulama berpendapat bahwa yang terlarang itu adalah patung-patung dan gambar-gambar yang sempurna rupanya. Adapun gambar yang dipotong kepalanya atau badannya hanya separuh, maka itu tidak terlarang, dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa membuat satu shurah, maka di hari Kiamat ia akan dipaksa untuk memberikan ruh kepadanya, padahal ia tidak bisa. (H.S.R. Bukhari)

Adapun shurah di sini pengertiannya ialah rupa, Gambar, Patung dsb, dari manusia ataupun yang lainnya.

Demikian penjelasan ilmiah ini, jika ada yang salah maka dimaafkan dan beri kritikan yang sopan. Perlu diketahui saya dan para ulama di atas hanyalah manusia biasa, jadi salah dan khilaf adalah bagian dari manusia yang penuh kewajaran.

Wallahu a'lam
Baca selengkapnya »

Selasa, 13 September 2016

0

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Kepada Allah Swt

|

Allah swt. memerintahkan kepada umat manusia agar berpengetahuan luas supaya manusia dapat memanfaatkan potensi yang terkandung di dalam alam semesta yang telah Allah swt. sediakan kepada manusia.

Perintah Allah swt. supaya manusia berpengetahuan sangat jelas sekali di dalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq ayat pertama, yaitu, Iqra’ (bacalah). Bacalah apa yang perlu dibaca, bacalah dengan hati, pikiran, dan pengamatan. Dengan banyak membaca seseorang akan menjadi banyak tahu, dengan banyak tahu ia akan menjadi berilmu dan bahkan menjadi ilmuan.

Dalam sejarahnya, ayat Iqra’ tersebut turun kepada Muhammad saw. yaitu, kepada masyarakat yang masih belum banyak mengenal baca dan tulis, namun demikian, Muhammad saw. sudah mempunyai daya pikir serta analisa yang tajam atas berbagai kejadian serta fenomena yang ada di masyarakatnya.

Kecintaan Muhammad saw. akan ilmu serta supaya ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan salah satunya ia tunjukkan dalam kasus perang badar. Dalam perang badar kaum muslimin memperoleh kemenangan yang besar. Pasukan yang berjumlah kecil yaitu kaum muslimin dengan jumlah 313 tentara dapat mengalahkan pasukan kaum musyrikin yang berjumlah besar, yaitu 1000 tentara pasukan perang.

Banyak dari tentara kaum musyrikin yang ditawan oleh pasukan kaum muslimin. Muhammad saw. sebagai komandan tertinggi pasukan kaum muslimin dengan budi pekertinya yang luhur serta sifatnya yang lembut memerintahkan kepada kaum muslimin agar memperlakukan tawanan secara manusiawi. Para tawanan yang mempunyai harta bisa bebas dengan menebus dirinya dengan hartanya. Bagi mereka yang tidak mempunyai harta juga bisa bebas dengan ilmunya, syaratnya mereka yang pandai membaca harus mengajarkan cara baca kepada anak-anak kaum muslimin, sedangkan mereka yang pandai menulis harus mengajarkan ilmu tulisnya kepada anak-anak kaum muslimin.

Kasus di atas merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Muhammad saw. sangat menghargai orang-orang yang berilmu serta mencintai ilmu. Ia sangat bercita-cita agar ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan. Begitu pentingnya ilmu dalam salah satu sabdanya ia mengatakan, man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallohu lahu thariqon ilal jannah, barang siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menggapai ilmu maka Allah mempermudah baginya jalan menuju ke surgaNya.

Ilmu dalam hal ini tidak terbatas kepada ilmu tertentu tetapi mencakup ilmu-ilmu apa saja, ilmu-ilmu eksakta atau noneksakta (ilmu-ilmu umum atau ilmu-ilmu agama). Kaum muslimin harus menguasai ilmu dalam berbagai bidang. Sebab kemajuan tidak akan bisa tercapai tanpa ilmu. Sejarah membuktikan kemajuan dan kejayaan Islam masa lalu karena kaum muslimin menguasai ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Di dalam ajaran Islam, ilmu apapun itu haruslah berupa ilmu yang membawa kepada pendekatan diri kepada Allah swt. Seseorang harus insaf bahwa, potensi, minat, dan bakat merupakan karunia dari Allah swt. Maka ilmu apapun yang sudah dikuasainya haruslah dibawa kepada kesadaran akan ke-Maha Besaran dan kekuasaan Allah swt.

Dengan ilmu yang dikuasainya seseorang tidak boleh sombong dan angkuh. Kemudian meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena di alam semesta, seperti membuat kerusakan demi keuntungan pribadi. Sekali lagi ia harus ingat bahwa, potensi, minat, dan bakat yang melekat dalam dirinya hanyalah pemberian Allah swt. semata-mata. Bahkan, ilmu itu sendiri adalah milik Allah swt., sedangkan manusia hanya sekedar memakainya saja.

Seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Muhammad saw. Manusia dengan ilmunya menjadi angkuh dan sombong, mereka merasa bahwa ilmu yang ada pada dirinya merupakan hak miliknya, ia menganggap bahwa dengan ilmunya ia menganggap sudah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya serta mampu menjawab berbagai permasalahan dalam kehidupannya, ia telah melupakan Allah swt. Ia dengan ilmunya bukan menjadi dekat kepada Allah swt. tetapi malah semakin jauh dari Allah swt.

Sumber dari : Media Portal Pks (Dakwatuna.com)
Baca selengkapnya »

Senin, 05 September 2016

0

Cerita Simbolik Mengenai Pengharaman Babi

|

Ada persamaan babi dan manusia. Yaitu bahwa ia tidak dapat dikuliti kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang lain. Binatang yang satu ini sangat kotor, konon lalat saja enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya sungguh begitu besar.

Memang, makanan dan minuman dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada minuman yang juga mempengaruhi manusia, minuman keras misalnya. Jiwa manusia akan berdampak buruk dengan memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi.

Jika kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar kita menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama islam -dan sebelumnya oleh agama Yahudi- adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak harus selalu dipahami nalar.  Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas.

Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan kendaraan berbeda dengan di Amerika, Jerman, atau Timur Tengah dan banyak negara lain selain itu. Mengapa demikian? Kita tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila kita berada di Indonesia atau Inggris, kita harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara tersebut. Dan juga berada di negara Amerika, Jerman atau Timut Tengah dan lainnya. Nah, demikian juga bila kita menganut agama islam, kita harus mematuhi ketetapan Allah yang menggaramkan babi, baik kita ketahui atau tidak.

Di sisi lain, perlu di ingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazali.
Seseorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu dia berfikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. "Ayah melarangku menebangnya, karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku." Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular yang menyerangnya yang berasal dari pohon yang telah ditebang tersebut. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, di samping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sabg anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustraaj Imam Ghazali.

Jika demikian, tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehar yang dapat dimakan ?
Baca selengkapnya »

0

Aneka Makhluk Allah

|

Beraneka ragam makhluk Allah di permukaan bumi ini di alam raya, dan bertingkat-tingkat keadaan mereka. Di bumi yang kita huni ini kita melihat batu serta mengenal manusia. Batu adalah benda keras dari kumpulan benda-benda kecil yakni mineral, bewarna warni dan memiliki kualitas yang berbeda-beda, sehingga dikenal istilah batu mulia dan batu bata. Demikian juga manusia, mereka bertingkat-tingkat kualitasnya, bahkan semua mahluk memiliki peringkat kualitas.

Makhluk-makhluk ciptaan ada yang bersifat bendawi dan ada pula yang tidak demikian. Makhluk yang bersifat bendawi bertingkat-tingkat juga dan sejalan dengan sifat terpuji (baik) yang disandangnya.
Tumbuhan lebih tinggi tingkatannya dari pada batu-batuan. Karena, yang ini merasa dan bergerak -bahkan boleh jadi tahu- sedang batu-batuan tidak demikian, paling tidak demikianlah pandangan kita sebagai manusia.

Baca artikel sensasional : Rokok Haram Atau Mubah

Selanjutnya mutiara, walau dapat dinilai benda tak hidup, tetapi dia memiliki sedikit kehidupan yang menjadikannya memperoleh peringkat tinggi dari bebatuan, walau tidak setinggi tumbuhan.
Pohon zaitun atau kurma memiliki peringkat lebih tinggi lagi. Ia di nilai kehidupannya mendekati kehidupan terendah binatang sebab memiliki keistimewaan.

Binatang pun bertingkat-tingkat. Ada yang melahirkan dan menyusukan anaknya dan ini lebih tinggi dari pada yang tidak demikian. Lalu ada yang dapat dididik dan ada yang tidak dapat. Yang dapat dididik betingkat-tingkar lagi, hingga mencapai tingkatnya yang tertinggi -seperti monyet misalnya- dan dari sana beralih tingkatan itu ke tingkat manusia.

Lalu, manusia juga bertingkat-tingkat. Tingkatannya antara lain ditentukan oleh pengetahuan, kepekaan dan geraknya. Semakin dalam, haus dan bebas geraknya, maka semakin tinggi tingkatannya. Pengetahuan menuntut tanggung jawab. Karena itu, semakin tinggi tanggung jawab seseorang semakin tinggi pula kedudukannya. Contohnya perbandingan orang dewasa dengan anak-anak.

Di sisi lain, siapa yang tidak bertanggung jawab -walau dewasa dan berpengetahuan, orang gila misalnya- maka tidaklah dia memiliki kedudukan yang tinggi. Demikianlah, sehingga pada akhirnya kita menemukan bahwa keberhasilan mempertanggung jawabkan tugas adalah poko tolok ukur kedudukan manusia. Karena itu, manusia dewasa dan waras tetapi tidak bertanggung jawab, kedudukannya sangat rendah, bahkan boleh jadi lebih rendah dari pada binatang.

Rasul saw. mengibaratkan manusia dengan batu (tambang). Ada tambang emas, ada perak, batu bara dan lain-lain. Semakin tinggi nilai dan kualitasnya semakin mulia ia. Nilai dan kualitas itu -bagi manusia- adalah penyerapan nilai-nilai agama serta penghayatan dan pengalamannya. Menurut ulama di abad 21 itu adalah Takwa dalam bahasa Al-Qur'an.

Demikian, Wa Allah A'lam
Baca selengkapnya »

Selasa, 30 Agustus 2016

0

"KECERDASAN" Sambungan Dari Artikel "Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia"

|

Berangkat dari artikel kemarin yang berjudul “Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia” kali ini saya ingin membahas mengenai keberadaan Tuhan di sekitar kita, bahwa Tuhan bisa kita temukan di setiap saat dan di semua tempat jika kita merenung dan berfikir secara tulus dan benar. Pengetahuan manusia dapat mengantarnya kepada pengakuan tentang wujud dan kuasa-Nya, mengenalnya melalui hasil ciptaan-Nya, menjangkau-Nya melalui dampak kuasa-Nya, serta merasakan hakikat kebesaran-Nya dengan melihat aneka Kebijakan-Nya.

Baiklah, agar tidak memperpanjang mukadimmah langsung saja simak penjelasannya.

Akhir-akhir ini banyak cendekiawan memperkenalkan aneka kecerdasan manusia, antara lain IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (kecerdasan Emosional), SQ (Kecerdasan Spiritual). Kecerdasan spiritual melahirkan iman yang kukuh dan rasa serta kepekaan yang mendalam. Kecerdasan semacam inilah yang menegaskan wujud Tuhan yang dapat ditemukan dimana-mana. Kecerdasan ini melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti, dan dia juga melahirkan mata ketiga dan indra keenam bagi manusia.

Dia yang mengantar manusia percaya kepada hal-hal bersifat gaib yang tidak bertentangan dengan kecerdasan intelektualnya. Bukan gaib yang merupakan takhyul dan khufarat. Bukan gaib yang menjadikannya percaya kepada angka 13 atau mengundangnya mengkafankan kucing yang ditabraknya dengan pakaiannya lalu menguburkannya, tetapi menabarak manusia melarikan diri.

Baca juga artikel : Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Seluruh Manusia

Kecerdasan emosional menjadikan manusia mampu mengendalikan nafsu bukan membunuh dan meniadakannya. Kecerdasan ini melahirkan pengendalian diri, bukan penyangkalan dan peniadaan pribadi. Emosi dan nafsu yang terkendali sangat kita butuhkan, sebab keduanya merupakan di antara sekian factor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan di muka bumi yakni membangun dunia sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Kecerdasan ini diantara lain mengajarkan kita marah pada tempatnya, dan dengan kadar serta yang tepat pula.

Kecerdasan emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Kecerdasan ini yang dapat menjadikan jiwa manusia seimbang, keseimbangan yang dapat menjadikan berfikir logis, objektif bahkan memiliki kesehatan  dan keseimbangan tubuh. Siapa yang berfungsi dengan baik kecerdasan emosi dan spiritualnya, maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari segala yang maksud buruk.

Kecerdasan ketiga  yang kita butuhkan adalah kecerdasan intelektual. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan kedua kecerdasan di atas, maka manusia bahkan kemanusiaan seluruhnya akan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Ia akan menjadi seperti kepompong yang membakar dirinya sendiri karena “kepintarannya”. Harus diingat bahwa kebodohan bukanlah sekadar lawan dari banyaknya pengetahuan, karena bisa saja seorang memiliki informasi yang banyak tetapi apa yang diketahuinya tidak bermanfaat baginya. Dalam salah satu nasihat kepada anaknya, Luqman Al-Hakim berpesan : “Hai anakku, tidak ada baiknya mempelajari apa yang belum engkau ketahui, selama engkau belum memanfaatkan apa yang telah engkau ketahui. Ini seperti pengumpul kayu yang tak mampu memikulnya, tetapi ia menambah lagi kayu yang lain untuk dipikulnya.”

Kini, maukah kita menggunakan aneka kecerdasan itu secara terpadu? Jika kita mau bertekad, Insya Allah Yang Maha Kuasa akan “menampakkan” diri-Nya kepada kita, dan ketika itu Dia akan mencintai kita.
Baca selengkapnya »

Kamis, 25 Agustus 2016

0

Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia Di Dunia

|

Bagi manusia yang beragama ungkapan bahwa Tuhan itu maha adil sudah menjadi salah satu roh dalam berkehidupan mereka, mencari jodoh, rezeki, maupun nilai kuliah semua berpatokan dengan ungkapan “ah Tuhan itu pasti adil”. Kemudian korelasi dengan perkataan “tiada hasil yang mengkhianati usaha” yang telah menjadi hits dalam status di media sosial anak ABG kini kian menjadi suatu tolak ukur yang baik untuk menilai rasa adil Tuhan, selalu bersemangat menjalani hidup baik susah maupun senang. Itu la Adil sebuah kata yang berarti sama (tidak dibeda-bedakan).

Di salah satu artikel, saya pernah mengungkit rasa keadilan yang diberikan oleh Tuhan jauh melebihi dari hakim (manusia).  Mengingat manusia adalah tempat salah dan khilaf yang artinya tidak ada yang namanya sempurna di mata Tuhan karena hanya-Nyalah yang patut kita berikan kata sempurna. Nabi-nabi besar sekali pun di setiap agama tidak pantas dikatakan sempurna di hadapan-Nya, namun tidak menutup kemungkinan di mata kita.

Kembali ke rasa adil, mencermati keadilan di dunia ini indah rasanya bila kita menyinggung keadilan yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks agama ingin saya katakan. Adilkah tuhan bila berwujud? lalu bagaimana dengan manusia yang buta, apakah ia bisa melihat sebagaimana temannya yang dapat melihat Tuhan? Ada 4 indera berada di tubuh manusia –Indra perasa tidak termasuk- yang semuanya sampai zaman modern ini tidak dapat manusia kembangkan menjadi alat untuk melihat, mendengar, mencium dan meraba zat-Nya. Bayangkan saja bila dari manusia diciptakannya terdapat yang tidak memiliki salah satu dari indra tersebut? Sangat logika jika tujuan Tuhan tidak ingin eksis adalah untuk mengisyaratkan bahwa maha adil yang dimiliki-Nya adalah keadilan yang paling Agung (Tinggi dari segala keadilan yang ada di dunia).
Baca selengkapnya »

Kamis, 04 Agustus 2016

0

Karena Cadar

|

Hari ini bukanlah membahas kelompok saparartis, ISIS, kelompok santoso atau lainnya. Tapi adalah dua wanita bercadar yang berada di rubrik ulasan tadi. Mengutip dari artikel seseorang yang mengatakan ''Kalau bercadar nanti tertutup dan susah mendapatkan jodoh", tulisan ini hadir sebagai jawaban bagi wanita muslim yang belum ingin merasakan nikmatnya berhijrah ke jalan yag benar.

Jika masih ada yang berkeyakinan seperti ini, maka silahkan lihat dan tanya apakah ada wanita yang bercadar yang berumur di atas 25 tahun yang masih belum menikah? Maka akan sangat susah mendapatkannya. Belum lagi mereka genap berumur 20 tahun sudah banyak laki-laki yang bertanya apakah ia sudah siap menikah sehingga bisa dilamar. Seperti cerita di awal tadi. Saya saja bertanya, karena berbagai faktor dan pertimbangan, saya urungkan niat untuk menggaetnya menjadi pendamping hidup.

Yang mencari mereka tentu laki-laki yang bertangggung jawab. Menikahi mereka bukan semata-mata karena kacantikan tetapi karena agama dan akhlaknya dan inilah yang bahan bakar utama kebahagiaan rumah tangga sampai menjadi pasangan abadi di akhirat kelak. Malah yang sering di dengar adalah para wanita “kurir” yang susah mendapatkan jodoh. Entah karena sibuk bekerja atau mencari yang lebih tinggi di atas mereka. Sudah berumur hampir mendekati menopouse masih saja kesulitan mencari jodoh.

Pakai cadar dan jilbab besarnya gerah dan panas
Neraka lebih panas lagi. Segala sesuatu butuh pengorbanan. Ini sama seperti jawaban kalian kepada mereka yang belum berjilbab dan menutup aurat. Mereka yang belum berjilbab juga merasa nantinya akan kepanasan dan gerah jika memakai jilbab. Maka sama juga dengan kalian sekarang yang belum memakai cadar atau purdah. Ini hanya masalah kebiasaan. Jika sudah terbiasa maka perasaan gerah dan panas akan hilang dan juga jika mamatuhi perintah Allah dan Rasul-Nya dengan tidak sering-sering keluar rumah. Maka perasaan panas dan gerah bisa diminimalkan.

Motivasi untuk Memakai Cadar
Siapa lagi kalau bukan kalian? Kalian wanita muslimah yang telah Allah karuniakan hidayah untuk peduli terhadap agama ini. Janganlah berharap kepada kebanyakan manusia, karena mereka tenggelam dengan kenikmatan dunia dan lupa bahkan pura-pura lupa terhadap agama. Apalagi mau menolong agama Allah dengan menjaganya. Kita yang mau peduli terhadap agama sangat sedikit dan janganlah kita mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [Al-An’am: 116]

Siapa lagi yang akan mengenalkan ajaran cadar kepada manusia? Siapa lagi yang akan menolong agama Allah? Siapa lagi yang melestarikan sunnah agar tidak punah dimuka bumi? Cadar dan sunnah yang lain sudah terasing, apakah ia hendak punah lenyap tak berjejak? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

“Pada awalnya Islam itu asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana pada awalnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing.” [HR Muslim no. 389]

Kalian merintis dan memberikan contoh, pahala akan terus mengalir
Ini adalah kesempatan emas. Dimana jika kalikan merintis sunnah ini disaat keterasingan cadar merajalela. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik [sunnah] dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” [HR Muslim no 2398]
Baca selengkapnya »

0

14 Manfaat Ketika Muslimah Menggunakan Cadar

|
Cadar adalah sejenis pakaian wanita yang menutup hingga sebagian wajah. Pemakain cadar memang sudah mulai banyak terlihat pada lingkungan kita. Di negara Indonesia saja, suda banyak para wanita yang mengenakan cadar dalam kegiatan sehari-harinya. Ada beberapa yang memakai ke kantor, ke pasar, dll.

Sudah tidak menjadi hal yang tabu lagi bagi masyarakat kita jika melihat wanita-wanita yang menggunakan cadar di kesehariannya. Menarik sekali ketika menemukan sebuah tulisan yang mengunggah pembahasan ini menjadi layak untuk di komsumsi bagi kalangan wanita muslim yang berhijab/non hijab. Judulnya begini " Cadar Menurut Ajaran Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Kejawen & JIL ".

Sebelumnya wanita bercadar kita lihat hanya berada di negara bagian arab dan sekitarnya. Namun sekarang tidak hanya di Indonesia saja, bahakan di beberapa negara lainnya juga sudah ada kelompok-kelompok wanita yang bercadar. Wanita yang menggunakan cadar tidak terliat sebagian dari wajahnya, hanya mata saja yang terlihat selebihnya tertutup.

Wajibkah Mengenakan Cadar?
Muncul beberapa pertanyaan dalam masyarakat, khususnya yang beragama islam. Apakah memakai cadar hukumnya wajib? Dalam kita suci Al-quran, terdapat beberapa ayat mengenai aturan menutup aurat bagi wanita dan mengenai perintah berjilbab. Allah memerintahkan untuk menutup auratnya bagi wanita.

Bercadar sebenarnya adalah salah satu cara wanita untuk menutup aurat mereka. Beberapa para ulama mengatakan tidaklah wajib memakai cadar, namun jika memakainya wanita akan mendapatkan pahala. Akan tetapi ada lagi beberapa ulama lainnya yang mengungkapkan kewajiban menggunakan cadar bagi wanita.

Banyak terjadi pro dan kontra mengenai hal ini. Sebenarnya bercadar sudah ada sejak zaman Nabi, wanita-wanita pada zaman Nabi menggunakan cadar. Ada beberapa surat dalam Al-quran yang membahas tentang menutup aurat dan memakai kerudung atau jilbab bagi wanita.

Ayat Al-Quran Tentang Perintah Berjilbab
Dalam Al-quran Allah memerintahkan setiap wanita untuk menutup auratnya, QS. An-nuur : 31 yang artinya:
“Hendakla mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampak perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkkan perhiasannya kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat ,mereka. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Itu hanya satu dari beberapa ayat yang menerangkan mengenai perintah-perintah berjilbab. Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang membahas mengenai hal tersebut. Jadi terjawablah jawaban kita, Nabi Muhammad S.A.W menganjurkan umatnya yang wanita memakai jilbab dan dalam Al-quran Allah S.W.T telah memerintahkan untuk menutup aurat.

Sebenarnya memakai cadar adalah bentuk dari menutup aurat mereka para wanita. Memakai cadar tidaklah di wajibkan, namun jika dikerjakan akan mendapatkan pahala. Akan tetapi yang harus kita ingat, memakai jilbab dan menutupi aurat adalah WAJIB.

Menggunakan cadar ternyata mempunyai banyak manfaat bagi wanita dalam kehidupan sehari-hari. Di wilayah Arab dan sekitarnya, mereka menggunakan cadar juga untuk menghindari diri dari debu dan kotoran yang beterbangan. Diketahui wilayah Arab termasuk wilayah yang tandus sehingga debu dan kotoran sangat mudah beterbangan karena di bawa angin yang kencang. Tidak hanya untuk menutupi aurat saja, ada banyak manfaat lainnya yang mungkin belum kita ketahui tentang menggunakan cadar.

Manfaat Menggunakan Cadar

  1. Menutupi aurat. Hal pertama dari manfaat bercadar ialah menutupi aurat bagi wanita. Kita tela mengetahui tentang perintah Allah S.WT untuk menutup aurat dan bercadar termasuk menutup aurat.
  2. Menghindari berbagai macam fitnah.
  3. Terhindar dari debu dan kotoran-kotoran.
  4. Memperkecil bahaya dari polusi udara.
  5. Memberikan perlindungan dari efek sinar matahari.
  6. Melindungi wanita dari berbagai bentuk kejahatan dan godaan dari kaum adam.
  7. Dapat membantu lelaki untuk menjaga pandangannya.
  8. Agar tertutup kesempatan dalam perzinaan dan perselingkuhan.
  9. Agar memuliakan seorang wanita dan lelaki tidak bisa menilai wanita dari bentuk fisiknya saja.
  10. Mengurangi kerusakan moral yang terjadi di masyarakat.
  11. Supaya wanita tidak terlihat menggoda.
  12. Membantu menentramkan hati para lelaki dan lebih khusyuk beribadah serta tidak terus mengingat wajah wanita.
  13. Supaya suami lebih tenang dan tidak mudah cemburu kepada istrinya.
  14. Mendapatkan pahala dari Allah S.W.T
Itulah beberapa manfaat dari menggunakan cadar bagi wanita. Jadi tidak hanya untuk menutupi aurat saja, akan tetapi banyak manfaat lainnya yang sangat penting kita perhatikan.

Baca selengkapnya »

Senin, 25 Juli 2016

0

Mencari Yang Sempurna | Bagian 1

|


Jika membaca situasi anak muda zaman sekarang rasanya tepat jika isu ini disinggung dalam blog  irudnews.com. Pemuda-pemudi yang sadar akan masa depan telah berani untuk beranjak ke jenjang yang berikutnya, fenomena nikah di usia mudapun sudah merambah di berbagai daerah. Tak mau ikut ketinggalan, akhir-akhir ini karimun di isi dengan berita-berita pernikahan anak muda. Dengan modal cinta dan harapan mereka yakin bahwa inilah jodohnya, kekasihnya sepanjang hayat, dan pasangan yang bisa membuat rumah tangga kelak menjadi sakinah mawadah warohmah.
 
Lalu, bagaimana dengan nasib yang belum mempunyai calon suami/istri –bukan pacar-. Bersabarlah, ya itu la jawabannya. Rasanya mudah sekali menjawab sabar, namun berat sekali untuk menjalaninya. Ketika teman sudah mulai menjalani bahtera rumah tangga, kita selalu dihadapkan dengan pergantian pasangan yang selalu tak berujung manis, silih berganti. Alhasil, fakta yang terjadi di era modern ini memang seperti itu. Sedikit ditemui pemuda/i yang konsisten dan selalu beristiqomah untuk tidak terjerumus ke dalam dunia percintaan, terlebih menjaga pandangan dari lawan jenis. Walau ada, mereka itulah manusia yang tidak akan rugi. Sebab jodoh yang mereka dapatkan kelak akan sama seperti kepribadian, akhlak dan amal mereka.
Jodoh adalah cerminan diri kita. Semua orang beriman percaya itu, konsep jodoh seperti ini. “jika kita bergaul dengan tukang minyak tentu kita akan bau minyak, kalau kita dekat dengan tukang parfum baju kita pastilah bau parfum”. 
An-Nur ayat 26 :
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).
Namun di lain waktu, terkadang ada wanita sholehah mendapatkan suami seorang pemuda mantan preman. Percaya atau tidak hal ini bukan tanpa alasan, Allah mempertemukan selalu mempunyai sebuah alasan, nalar kita terbatas, apa yang tuhan lakukan tidak bisa kita menduga. Inilah rahasi-Nya. Jika menganalisis hukum sebab-akibat tersebut, pemikiran positif harus diutamakan, boleh jadi Allah melakukan tersebut untuk mengajarkan kepada wanita sholeha, baik itu kesabaran, kepercayaan, dan juga memberi cobaan tantangan yang semakin seorang sholeha semakin tingkat cobaaan yang diterpanya. Alasan yang lebih logis lagi adalah kemungkinan dengan jalan seperti itu sang pemuda bisa terbawa kejalan yang baik. wawlahu’alam.
Pada dasarnya, manusia tidak berhak mengira-ngira jodohnya siapa, karena sungguh yang mengatur hal itu adalah sang maha pembolak balik hati yang mengetahui setiap isi hati yang tersembunyi, pemilik bumi cinta dan seluruh isinya. Tugas manusia sebagai mahluk adalah terus memperbaiki diri. memang tidak dipungkiri di dalam hati berharap, “semoga dia adalah jodohku” bahkan tak elak selalu menyelipkan namanya dalam sujud panjang, apakah kalian seperti itu ? Rasanya iya, jika melihat update status galau kalian selalu di posting di jejaring sosial.
So, mulai saat ini fokuslah memperbaiki diri, memantaskan diri. Coba evaluasi dan tanya diri kita sudah pantaskah kita menjadi seorang ayah, sudah layakkah kita menjadi seorang ibu. Karena pernikahan tidak hanya antara kamu dan dia, tapi juga antara kamu dan anakmu dengan anaknya kelak, pada level ini modal cinta dan sayang saja tidak cukup. Butuh ilmu, butuh kesadaran serta kesabaran dalam mendidik anak dan menjadikannya generasi yang shaleh dan shaleha, karena itulah sejatinya pernikahan, melanjutkan keturunan untuk melahirkan generasi shaleh dan shaleha.
Baca selengkapnya »

0

Mencari Yang Sempurna | Bagian 2

|


Manusia tidak ada yang sempurna, apa lagi untuk mencari wanita cantiknya seperti Zaskia mecca, akhlaknya seperti ustadzah Oki Setiana Dewi. Dan jika dimundur ke belakang tak setulus khadijah, tak sesabar fatimah, tak setabah maryam, juga tak selembut aisyah, carilah wanita yang memikirkan masa depannya dengan mencoba untuk selalu memperbaiki diri, mengokohkan iman yang tak jarang sering terhempas.

Lihatlah teman kita, sempurnakah mereka ? Mereka pintar, apakah mereka ganteng/cantik? jika iya apakah mereka mapan dan memiliki pasangan, seandainyapun iya jawabannya, bahagiakah mereka dengan pasangan, serta muluskah hubungannya? Jadi jawaban dari tiga pertanyaan tadi sudah termasuk mewakili kategori sempurna, namun tidak ada yang namanya sempurna.


Dengan terpedaya tipu musliat iblis, gejolak dalam suatu hubungan tak bisa terhindari. Rasa puas belum dirasakan akibat masih saja ada kekurangan dari hubungan ini, tidak sempurna di mata lalu tetap memaksakan untuk mengakhirinya. Padahal dari proseslah rasa sempurna hadir di tengah-tengah hubungan.

Ya, itulah sebagian yang dirasakan dan dilakukan. Intinya adalah mereka yang bingung akan jodohnya terlalu fokus pada orangnya. Semestinya, fokus pada diri sendiri dan bagaimana caranya agar hubungan ini di ridhoi Allah swt.
Baca selengkapnya »

Kamis, 21 Juli 2016

0

Game Pokemon Mewabah Di Indonesia

|

Khotbah pada jumat (22-july-2016) terasa amat berbeda, tak seperti biasanya tema yang di angkat sang khatib hari ini. Ternyata bukan khatib yang selalu berada di mimbar masjid al-musahadah, batu lipai. Beliau hanya sekali ini tampak pada khotbah jumat.

Khatib yang tampak umur 60-an tersebut membahas mewabahnya video game pokemon ke indonesia. Sang khatib mengkhawatirkan hal ini akan mengancam demam yang tak berkesudahan. Dalam khotbahnya ia mengatakan, Kita jangan menyepelekan sesuatu yang kita sadar itu tidak baik, kalau sudah keterlaluan bagaimana dengan anak kita/generasi berikutnya. Tentu akan mengindahkan segala bentuk ibadah kecuali kebiasan yang satu ini.

Di arab saudi saja, sudah mengharamkan video game ini. Disana adalah tempat ulama-ulama berkumpul, mereka sudah paham betul akan dampak ini. Ujar khatib dengan lugas.

Cara penyampain beliau dengan tegasnya yang tidak la lazim, penuh semangat dan begitu idealis dalam memperjuangkan akidah sebagai umat islam. Memhuat para jamaah tersontak saat tiba-tiba saja game pokemon menjadi topiknya.

Untungnya jamaah sholat terdapat juga kaum pemuda, jadi penyampaiannya terasa bermakna walau golongan tua terlihat jenuh dan mulai monoton. Materi semacam ini menjadikan mereka kaum pemuda cukup antusias untuk mendengarkan khotbah jumat.

Semoga para khatib-khatib yang lain terus saja menyeruakan apa yang sedang terjadi -fenomena- sekarang. Bukan dengan membahas ilmu agama yang pada umumnya di pelajari pada tingkat sekolah dasar. Dan ekspekti kita bersama ingin adanya sebuah terobosan dari generasi baru, yakni pemuda-pemuda yang siap menyambungkan tradisi agama. Sebagai khatib yang selalu menginspirasi umat.
Baca selengkapnya »

Selasa, 19 Juli 2016

0

Islam Mengajarkan Pakaian Di Tutup Bukan Di Balut

|

Dalam era yang modern ini, semua orang ingin tampil dengan pakaian yang serba modern. Hingga pakaian syari terhempas habis dengan perubahan model fashion yang saat ini sedang menjadi trend. Kebanyakan dari wanita muslim yang berjilbab hanya sekedar memakai jilbab tanpa mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam berhijab. Kriteria jilbab bukanlah berdasarkan kepantasan atau modefashion yang sedang trend, melainkan berdasarkan alquran dan assunnah. Jika kedua sumber hukum Islam ini telah memutuskan suatu hukum maka siapapun tidah berhak membantahnya.

Firman Allah SWT :
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al-ahzab : 36)

Para perancang mode fashion boleh saja mengatakan bahwa hasil rancangannya itu adalah jilbab. Namun jika hal itu ternyata tidak memenuhi syarat yang diperintahkan Allah, maka itu bukanlah jilbab. Sebab dalam syariat Islam pakaian yang disebut dengan jilbab jika memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan

Hal tersebut terdapat dalam firman Allah Swt:
 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain krudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (Qs. An-Nur : 31)

Firman Allah Swt dalam surah Al-Ahzab : 59, yang juga menerangkan bahwa:
 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab : 59) 

Dua ayat diatas dengan  tegas menyatakan bahwa jilbab harus menutupi seluruh anggota badan kecuali yang bisa nampak yaitu muka dan telapak tangan. Syarat jilbab syari adalah menutup seluruh aurat, tidak menjadi perhiasan dan pusat perhatian, tidak tipis, tidak ketat, tidak menyerupai lelaki, tidak menyerupai wanita-wanita kafir, tidak menggunakan parfum dan bukan termasuk pakaian syuhrah (hanya untuk popuralitas), di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia & perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dengan tujuan riya.

Dalam alquran talah dijelaskan bahwa jilbab merupakan baju kurung. Misalnya saja seperti gamis ataupun atasan yang longgar dan menggunakan rok. Bukan seperti pada kenyataan saat ini, para muslimah menggunakan jilbab dililit dengan baju dan celana yang ketat. Hal itu sangat bertolak belakang dengan ketentuan dalam alquran dan assunnah. Sesungguhnya jilbab syari ketentuannya berasal dari Allah Swt, sedangkan jilbab gaul itu ketentuannya berasal dari manusia.

Jagalah auratmu dari orang yang tidak berhak melihatnya. Sebab banyaknya kasus pelecehan terjadi terhadap wanita kebanyakan menggunakan jilbab tidak sesuai dengan ketentuan-Nya  sehingga mengundang setan untuk menggoda kaum adam agar melakukan pelecehan. Mata mereka akan terjaga jika muslimah menjaga penampilan sesuai dengan syariat Islam. Islam mengajarkanmu untuk menutupi bukan membungkus aurat mu.

Penulis : Sutianti
Baca selengkapnya »

Jumat, 15 Juli 2016

0

Mereka Yang Telah Tinggi Tak Perlu Meninggi

|
Apa yang seseorang perlukan adalah apa yang tak ia miliki. Maka dia yang gemar dihormati adalah yang masih kekurangan kehormatan. Sedangkan diri yang terhormat, tak pernah peduli, akankah ia diberi.

Maka kenalilah, wahai diri, apa-apa yang kau perlukan. Semakin tinggi tumbuh jiwamu, sejatinya semakin tak perlu pada apa-apa yang diberikan oleh sesamamu. Sebab, ketinggian jiwa hanyalah hasil dari kedekatanmu dengan Sang Pencipta. Lalu adakah lagi yang kau butuhkan dari manusia, jika setiap detik terasa kehadiran-Nya?

Benarlah kiranya, bahwa mereka yang telah tinggi, tak perlu meninggi. Bahkan ia tak peduli dimanakah ia berdiri, sebab ketinggian jiwa tidaklah sama dengan apa-apa yang fana. Ketinggian jiwa, tak terbatas pada ruang, karenanya bisa dimiliki siapapun yang menempuh jalan-Nya. Lihat Video Kegiatan HIMA-MKP Universitas Karimun

Kemulian diri, ada pada pengabdian. Pada tiap pengabdian, Dia kan tunjukkan jalan. Takkan pernah Dia biarkan para pengabdi dihinakan. Kalaupun makhluk menganggapnya hina. Semata hanyalah jalan agar sang diri melepaskan diri dari dari apa yang tampak, menjelajahi jiwanya, terus menembus langit, menjelajahi keabadian.

Duhai, betapa jemari penulis ini, masih jaih dari itu.

*mencoba menulis dengam genre baru
Baca selengkapnya »

Kamis, 14 Juli 2016

0

Berbagi Di Bulan Syawal

|
Apapun rintangan tiada halangan untuk melakukan niat baik, pasti ada jalan yang diberikan oleh tuhan. Kata Anita Karimun yang menunjukkan jalan ke rumah salah satu warga kolong bawah.

Rabu (13/07/2016) Alumni Smk Negeri 1 Karimun angkatan 2011 melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan berupa paket sembako, dimana kegiatan ini dilakukan hasil dari kesepakatan saat acara buka bersama untuk melakukan kegiatan aksi sosial ditengah bulan ramadhan. Namun karena kesibukan para panitia sehingga baru semalam siang bisa terealisasikan. Dana paket sembako berasal dari infaq yang diberikan oleh para alumni dan guru yang hadir pada acara buber sabtu, 02/07/2016.

Sampai disana keadaan dalam rumahnya sungguh memprihatinkan, menyewa rumah seharga 200 ribu per bulan dan ditanggung oleh orang lain. Suaminya baru saja meninggal, seharusnya almarhum-lah yang menjadi tulang punggug keluarga. Sudah jatuh ketimpa tangga pula, malang sekali nasib ibu ini, setelah kepergian suami tercinta kini anaknya yang berumur 40 tahun mengalami sakit yang sejenis lumpuh, sangking parahnya ia pun sulit untuk bisa berjalan. Hanya bisa baring dan sesekali sambil duduk untuk melawan kejenuhan yang diakibatkan penyakitnya.

Awalnya hanya penyakit asam urat, kata ibu tersebut. Lama-kelamaan seperti ini, badan kurus, semua anggota tubuh sulit untuk di gerakan. Untuk menghidupi kebutuhan hidup, mereka ditanggung oleh tetangga yang peduli. Tidak sedikit para donatur yang membantu, biasanya sebelum bulan puasa dan hari raya berjejeran bantuan yang bermacam-macam jenis di rumahnya, yang dikhawatirkanya  ialah ia takut rumahnya yang berjenis rumah panggung tersebut akan roboh akibat terlalu banyak beban yang ditopang, apa lagi beras yang paling banyak diberikan oleh donatur.

Menurut pengakuan ibu yang kami tidak ketahui namanya itu. Pemerintah karimun melalui dinas sosial belum pernah membantu kami, hanya pihak swasta yang selalu mengunjungi dengan membawa bantuan.

Setelah bercengkrama bersama keluarganya dan tetangga. Kami langsung memberikan paket sembako yang memang tidak banyak. Namun cukup juga untuk memenuhi kebutuhan hidup 1 minggu. Harapan dari panitia bahwa kedepannya semoga lebih besar lagi bantuan yang diberikan dengan mengadakan buka bersama yang lebih besar, yakni seluruh alumni smk negeri 1 karimun.

Berikut adalah foto-foto kami di perjalanan menuju rumah warga yang mendapatkan bantuan sembako.








Baca selengkapnya »

Minggu, 10 Juli 2016

0

Pacaran ? Nabi Muhammad Juga Mengalaminya (Tetapi Secara Islami)

|

Sejumlah orang masih belum mengerti mengenai pacaran dalam Islam. Mereka menyangka: “Islam hanya mengenal ta’aruf sebelum pernikahan.” Lantas untuk menolak islamisasi pacaran, mereka pun mengajukan pertanyaan: “Apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? Apakah pernah salah satu sahabat Rasullah SAW pernah pacaran sebelum menikah? Bukankah pacaran itu merupakan produk Barat?”

Tri Minarni
Berikut adalah tanggapan dan jawaban saya :
Pacaran bukanlah produk Barat. Pada zaman Nabi Muhammad SAW pun sudah terdapat budaya “pacaran” (dalam arti “saling ekspresikan cinta”). Beliau tidak melarangnya, tetapi justru merestuinya. 


Tidaklah benar bahwa Islam mensyariatkan “ta’aruf sebelum pernikahan”. Yang disyariatkan adalah tanazhur, yang kami sebut sebagai pacaran islami. 
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun pernah “pacaran” (dalam arti “bercinta pra-khitbah“) sebelum menikah. Metode “pacaran” yang mereka gunakan adalah tanazhur (saling menaruh perhatian). 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku.” (HR Muslim, Bab “Keutamaan Khadijah”)

Ibnu al-Atsir menceritakan dalam Tarikh-nya bahwa setelah mendengar kabar tentang sifat-sifat Muhammad SAW, Siti Khadijah menawarkan kesempatan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Tawaran ini diterima dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar (daripada bila dibawa oleh orang lain). Lantas, Ibnu al-Atsir mengungkapkan “Siti Khadijah sangat gembira menerima keuntungan yang besar itu, tetapi kekagumannya kepada orang yang telah diujinya itu jauh lebih mendalam.” (Kekaguman yang mendalam inilah yang kita kenal sebagai rasa CINTA. Sedangkan ekspresinya kita sebut sebagai “bercinta“.)

Baca selengkapnya »

0

Hidup Bahagia Dengan Belajar Kekurangan Dari Pasangan Kita

|
Anita Karimun
Tidak ada manusia yang sempurna. Sebuah kalimat klise (tiruan), namun sangat mendalam artinya. Manusia yang menuntut kesempurnaan dari sesuatu hanya akan menemukan bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang kurang bersyukur. Begitupun dalam kehidupan suami dan istri sehari hari. Sebuah hubungan yang sempurna tidak berarti selalu baik dan harmonis dan atau mempunyai kesamaan dalam segala hal. Namun kesempurnaan adalah tentang melengkapi dan mengerti satu sama lain. Itulah rahasia Allah azza wa jalla yang tersimpan dengan nama Perbedaan. Suami istri mempunyai latar belakang, pemikiran dan banyak hal lain yang berbeda, namun justru disinilah nikmatnya, perbedaan itu bisa menjadi pelengkap bagi kekurangan satu dengan yang lain. 

Perbedaan hanya akan menjadikan konflik yang tidak sehat jika seseorang suami atau istri kekeh menilai pasangannya tidak sejalan dengan keinginan ataupun selera mereka. Tapi bukankah pernikahan adalah tentang "kita" dan bukan " kamu" atau " aku" ?.

Keegoisan dan penilaian dengan harga mati atas kekurangan pasangan kita adalah salah satu sumber yang tidak sehat dalam hubungan keluarga. Bukankah manusia tempatnya salah dan lupa? dan kalausaja mereka tahu dari awal tentang efek buruk dari kesalahan itu, mereka akan sangat menjauhkan diri dari melakukan kesalahan dan atau mengijinkan diri mereka mempunyai kekurangan  tersebut? Dari itulah Allah mengajarkan kita tentang indahnya memaafkan.

Dan bukankah suami istri hanyalah sebagai manusia yang hanya dapat menerima tanpa bisa "memesan" karakter, sifat ataupun kekurangan yang diberikan Allah kepada mereka. Cara cantik yang justru diberikan Allah inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai ladang amal dan ibadah untuk menciptakan sebuah kesempurnaan, yaitu lewat perpaduan dua perbedaan dari suami dan istri. 

Dengan adanya kesadaran dan kerelaan hati memahami itu semua, insyaallah keadaan rumah tangga akan lebih mententramkan, dan insyaallah menjauhkan sebuah hubungan dari konflik yang merusak. kadang tanpa kita sadari, atas nama ego dan atau pembenaran terhadap ego masing masing, suami atau istri memulai sebuah konflik. Namun bagi mereka yang ingin benar benar membina hubungan yang harmonis, konflik akan "berlangsung" secara sehat tanpa harus saling menyakiti atau malah mendzholimi di akhir ceritanya. Jadi, konflik memang tidak selalunya buruk. Hal ini berlaku bagi suami istri yang mau belajar dan ingin mendidik diri untuk lebih mendapatkan keluasan hati. Sebagai hasilnya, mereka akan menjadikan konflik sebagai cara untuk introspeksi dan mengetahui kekurangan masing masing.

Lihat juga artikel Pacaran ? Nabi Muhammad Juga Mengalaminya (tetapi secara islami)

Selamat menikmati kekurangan yang ada pada pasangan kita, dan mari menjadikannya sebagai ladang amal ibadah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Semua yang terjadi dan apa yang Allah takdirkan atas kita pasti mengandung sebuah misi untuk menjadikan kita pribadi yang belajar, dewasa, dan belajar untuk dewasa. Walaupun ada banyak kekurangan pasangan kita, insyaallah terkandung lebih banyak kebaikan, dan bahkan bisa jadi kekurangan yang diasah secara lembut dan lebih telaten, lambat laun akan berubah menjadi kelebihan. Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi dan bersyukur atas hal yang bernama kekurangan. 


Baca selengkapnya »

Support

Copyright © 2011 PC PMII Kabupaten Karimun

Template N2y Shadow By Nano Yulianto